Beijing (ANTARA) – Pemerintah China mengusulkan inisiatif kecerdasan buatan (AI) menggunakan sumber terbuka (open source) yang inklusif kepada negara-negara anggota kelompok BRICS.
“Dalam KTT ke-18 BRICS, Presiden Xi Jinping mengusulkan inisiatif AI sumber terbuka (open source) yang inklusif, inisiatif kerja sama industri digital, serta inisiatif kerja sama manufaktur cerdas,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.
Guo Jiakun menyebut hal itu disampaikan Presiden China Xi Jinping dalam sesi kedua sidang pleno dalam pernyataan di sesi kedua KTT ke-18 BRICS di New Delhi pada Minggu (13/9).
“Presiden Xi mengumumkan sejumlah langkah kerja sama konkret. China akan menjadi pelopor dalam pembentukan komunitas AI sumber terbuka (open source) di dalam BRICS, membangun ekosistem digital komputasi awan BRICS, dan meluncurkan program pertukaran pemuda BRICS untuk inovasi sains dan teknologi,” tambah Guo Jiakun.
China, menurut Guo Jiakun, berkomitmen untuk mendukung negara-negara Global South lain dalam meningkatkan kapasitas dan memperoleh manfaat yang setara dari teknologi baru agar dapat bertumbuh bersama.
Dalam pidatonya, Guo Jiakun mengatakan Presiden Xi Jinping merangkum perjalanan pembangunan BRICS dalam tiga ungkapan: kemandirian dan penguatan diri, kebersamaan dalam menghadapi suka dan duka, serta hasil-hasil yang bermanfaat.
“Presiden Xi menggarisbawahi bahwa selama dua dekade terakhir, BRICS telah berkembang dengan semangat dan vitalitas yang kuat, serta menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di dunia saat ini bagi negara-negara berkembang,” ungkap Guo Jiakun.
Presiden Xi Jinping juga menegaskan bahwa BRICS harus berdiri teguh di sisi sejarah yang benar, serta berupaya menjadi pelopor dalam memajukan pembangunan berbasis inovasi, pelopor dalam memprioritaskan perdamaian dan stabilitas, pelopor dalam memfasilitasi pembelajaran antarperadaban, dan mendorong reformasi serta memperbaiki tata kelola global.
“Negara-negara Global South harus bersama-sama mempertahankan supremasi hukum dalam urusan internasional, menjunjung tinggi semangat multilateralisme, tetap berkomitmen pada filosofi pembangunan yang berpusat pada rakyat, bersama-sama memajukan tata kelola keamanan, mengarahkan tatanan internasional ke arah yang lebih adil dan setara, serta bekerja sama membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” jelas Guo Jiakun.
Guo Jiakun juga mengungkapkan bahwa Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa untuk mencapai hal-hal besar dan meraih kemajuan signifikan, fondasi kerja sama BRICS yang lebih luas harus diperkokoh.
“China akan mengambil alih keketuaan BRICS tahun depan dan menjadi tuan rumah KTT ke-19 BRICS. Kami akan membangun konsensus dan bekerja sama dengan semua pihak untuk merencanakan masa depan sehingga dapat bersama-sama mengantarkan dekade emas ketiga BRICS serta membuka masa depan cerah bagi kemakmuran dan kemajuan bersama,” tegas Guo Jiakun.
Baca juga: Cara membedakan foto dan video AI dari konten asli
Baca juga: CIFTIS 2026 perdalam konsensus kerja sama jasa global
Keketuaan BRICS berganti setiap tahun sesuai dengan huruf-huruf akronimnya. Setiap masa jabatan dimulai pada 1 Januari dan berakhir pada 31 Desember tahun tersebut. Negara yang mendapat giliran untuk memimpin dapa menetapkan prioritas agenda untuk tahun tersebut dan juga menyelenggarakan KTT tahunan serta mengarahkan pertemuan-pertemuan menteri dan kelompok kerja utama.
KTT BRICS Ke-18 di New Delhi, India, mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability) dalam merespons berbagai tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam KTT BRICS itu hadir Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. dan tentu saja Perdana Menteri India Narendra Modi.
Brasil diwakili oleh Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sementara Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.
BRICS juga telah menerima negara-negara mitra ke dalam kerangka kerja sama kelompok tersebut, termasuk Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.
Saat ini, BRICS terdiri dari 11 negara yaitu Brazil, Cina, Mesir, Ethiopia, India, india, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab yang mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto (PDB) global, dan 26 persen perdagangan global, berdasarkan data yang dikutip BRICS.
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
sources references https://www.antaranews.com/berita/5741084/china-dorong-inisiatif-ai-open-source-dalam-brics
